"I'm not telling you it's going to be easy. I'm telling you it's going to be worth it"
Tuesday, October 25, 2016
Gift
Minggu, 16 Oktober 2016, pukul 07.58 WIB. Notifikasi aplikasi Whatsapp dari smartphone saya berbunyi.
Sebut saja A teman saya, dan B adalah saya.
..........
A: Ay, nanti jam 9nan dikos?
B: Engga nih, aku jam 8.30an udah gak dikos, ada training di Dinas Pariwisata. Gimana?
A: Oh ya, gapapa. Niatnya mau mampir kosanmu bentar, tapi gak jadi hehe.
B: Duh, maaf yaa. Emangnya kamu mau kemana?
A: Mampir bentar aja, mau survey KKN
B: KKN? KKL maksudnya?
..........
Dan saya belum sempat lihat balasannya lagi. Langsung berangkat ke Dinas Pariwisata Yogyakarta. Sebelumnya, saya berniat mampir ke Sunday Morning sebentar. Niatnya, mau beli topi yang udah saya cari-cari dari berminggu-minggu lalu. Gak tau kenapa, tiap mau beli selalu aja ada yang bikin gak jadi beli. Kalau dihitung-hitung, saya udah gagal beli 4 kali. Kalau misalkan gak butuh, saya gak akan nyoba lagi hari ini buat beli. Sayangnya, udah nyampe tempat, gak ada juga yang jual topinya. Totalnya, saya gagal beli topi 5 kali. Sedih sih, sedikit. Tapi dari kosan, saya sudah bilang sama diri saya sendiri, kalau misalkan gak dapet lagi, berarti saya gak diridhoi Allah buat beli dan disuruh ngirit dengan cara 'minjem' lagi. Alay banget ya beli topi aja bawa-bawa ridho Allah? Oke, back to the topic. Jadi setelah tau gak dapet, saya langsung putar balik buat berangkat ke Dinas Pariwisata. Nyampe disana, saya datang pertama kali. Masih sepi. Karena gak ada kerjaan, saya iseng mainin smartphone. Oiya, jadi keinget tadi lagi Whatsapp-an sama temen.
.......
A: KKN ay, aku mau KKN semester genap. Ay, sebenernya aku tadi ke kosmu mau ngasih ini.
*loading pict*
*Downloaded*
B: Aku tau kamu pengen ini. Tapi aku nyari yang ada gambar unicornnya gak ada, jadi aku beliin yang gambar ini. Please jangan digantiin uangnya ya. Kalo kamu ngeganti uang, aku gak mau ngomong sama kamu.
........
Saya teriak dalam hati. Ada foto topi warna pink disana. Persis seperti topi yang saya mau. Yang saya cari berminggu-minggu. Yang sudah gagal saya beli sebanyak 5 kali.
Demi apa? Jadi, ini alasan saya gagal beli topi sebanyak 5 kali? Jadi ini alasannya saya gak diridhoi beli topi sama Allah tadi?
Simple sih sebenernya, cuma sepotong cerita tentang gagal beli topi. Tapi, siapa yang sadar kalau bahkan, Allah sudah mengatur hal sesederhana ini? Ternyata bersyukur itu indah banget ya:") Termasuk sekedar bersyukur udah diperhatiin sama Allah untuk hal sesederhana itu. Tapi, bukannya justru yang sederhana sering menjadi begitu istimewa?:)
..........
A: Ay, nanti jam 9nan dikos?
B: Engga nih, aku jam 8.30an udah gak dikos, ada training di Dinas Pariwisata. Gimana?
A: Oh ya, gapapa. Niatnya mau mampir kosanmu bentar, tapi gak jadi hehe.
B: Duh, maaf yaa. Emangnya kamu mau kemana?
A: Mampir bentar aja, mau survey KKN
B: KKN? KKL maksudnya?
..........
Dan saya belum sempat lihat balasannya lagi. Langsung berangkat ke Dinas Pariwisata Yogyakarta. Sebelumnya, saya berniat mampir ke Sunday Morning sebentar. Niatnya, mau beli topi yang udah saya cari-cari dari berminggu-minggu lalu. Gak tau kenapa, tiap mau beli selalu aja ada yang bikin gak jadi beli. Kalau dihitung-hitung, saya udah gagal beli 4 kali. Kalau misalkan gak butuh, saya gak akan nyoba lagi hari ini buat beli. Sayangnya, udah nyampe tempat, gak ada juga yang jual topinya. Totalnya, saya gagal beli topi 5 kali. Sedih sih, sedikit. Tapi dari kosan, saya sudah bilang sama diri saya sendiri, kalau misalkan gak dapet lagi, berarti saya gak diridhoi Allah buat beli dan disuruh ngirit dengan cara 'minjem' lagi. Alay banget ya beli topi aja bawa-bawa ridho Allah? Oke, back to the topic. Jadi setelah tau gak dapet, saya langsung putar balik buat berangkat ke Dinas Pariwisata. Nyampe disana, saya datang pertama kali. Masih sepi. Karena gak ada kerjaan, saya iseng mainin smartphone. Oiya, jadi keinget tadi lagi Whatsapp-an sama temen.
.......
A: KKN ay, aku mau KKN semester genap. Ay, sebenernya aku tadi ke kosmu mau ngasih ini.
*loading pict*
*Downloaded*
B: Aku tau kamu pengen ini. Tapi aku nyari yang ada gambar unicornnya gak ada, jadi aku beliin yang gambar ini. Please jangan digantiin uangnya ya. Kalo kamu ngeganti uang, aku gak mau ngomong sama kamu.
........
Saya teriak dalam hati. Ada foto topi warna pink disana. Persis seperti topi yang saya mau. Yang saya cari berminggu-minggu. Yang sudah gagal saya beli sebanyak 5 kali.
Demi apa? Jadi, ini alasan saya gagal beli topi sebanyak 5 kali? Jadi ini alasannya saya gak diridhoi beli topi sama Allah tadi?
Simple sih sebenernya, cuma sepotong cerita tentang gagal beli topi. Tapi, siapa yang sadar kalau bahkan, Allah sudah mengatur hal sesederhana ini? Ternyata bersyukur itu indah banget ya:") Termasuk sekedar bersyukur udah diperhatiin sama Allah untuk hal sesederhana itu. Tapi, bukannya justru yang sederhana sering menjadi begitu istimewa?:)
Saturday, September 17, 2016
Dear My Never-Ending Love
Dear my never-ending
love,
Ketika pesan ini mulai kutulis, tiga puluh sembilan menit
lagi umurmu 56 tahun, seharusnya.
Sesungguhnya, ketika kata seharusnya berhasil kutulis aku
mulai bertanya, “apakah kata seharusnya patut ku pertanyakan?”
Maksudku, apakah umurmu ikut bertambah semenjak kau menghilang
dibalik senja kala itu?
Sungguh, aku tidak tahu. Yang kutahu, saat ini, tiga puluh empat
menit lagi, tepat 10 kali aku terjebak pada lingkar 17 September
Dear my never-ending
love,
Kau tahu?
Betapa tanggal 17 September menjadi hari yang begitu sendu?
Terhitung ditahun ini pada tanggal yang sama, sudah 10 surat
sendu kukirimkan,
untukmu.
Semua berisi bualan bahwa aku baik-baik saja tanpamu
Dear my never-ending
love,
Kau percaya?
Aku tidak pernah baik-baik saja tanpamu, sekalipun ketika
aku menulis surat pengakuan ini
Sejujurnya, aku lelah memikirkan apa yang harus kuberikan
untukmu di hari-yang-“seharusnya” istimewa ini setiap tahunnya di sepuluh tahun
belakangan ini
Kau tahu?
Hal ini seribu kali lebih menyiksa dibandingkan memikirkan
kado terindah yang bisa kubelikan untukmu setiap tanggal ini belasan tahun yang
lalu.
Astaga, betapa ungkapan belasan-tahun-yang-lalu terdengar
begitu usang!
Dear my never-ending
love,
Kau tahu?
Ada sebongkah rindu yang tertahan didalam sini
Begitu dalam, hingga aku tak mampu untuk merabanya
Dear my never-ending
love,
Dua menit lagi, lingkar sendu itu akan terbuka lebar
Memutarkan rekaman indah memori belasan tahun lalu
Dear my never-ending
love,
Sekarang sudah lewat dua menit hari istimewamu tiba
Apakah hari ini tetap menjadi istimewa meskipun kau telah
hilang dibalik senja?
Ah, kau bahkan tidak pernah sekalipun menganggap hari ini
istimewa
Ya, aku yang memilih untuk membuatnya terlihat berbeda
Dan aku sendiri yang tersiksa
Dear my never-ending
love,
Sekarang, ketika kau baca suratku, aku sedang melewati angka
12.08
Tertanda pada pukul 12.08 WIB, kuakhiri surat sendu ini
bersama ribuan rindu yang tak terhingga
Dear my never-ending
love,
Selamat ulang tahun.
Aku merindukanmu, Pah.
Setengah mati.
Bagaimana ini?
Wednesday, August 31, 2016
People Change. Memories don't.
Apakah
kau mensyukuri hidupmu?
Apakah
kau ingin menukar hidupmu dengan yang lain?
Atau
apakah kau ingin mengakhiri hidupmu saja?
You know my name, not my story
Pernah mendengar ungkapan itu?
****
Entah
apa yang menuntunku untuk mau membicarakannya. Yang aku tahu, malam ini, aku
sedang ingin bergumul dengannya. Dengan potongan-potongan memori yang sudah
lama tak kusentuh. Mungkin sudah usang.
Sesekali
kubiarkan angin malam berhembus. Melayang-layang menyempurnakan rasi bintang.
Membayangkan bagaimana fajar seharusnya terbit. Membiarkan sinarnya terpecah
sempurna sesempurna kehidupanku, dulu.
Jika
dia masih ada, apakah aku masih turun didepan gerbang sekolah dari sebuah sedan
hitam?
Jika
dia masih ada, apakah aku masih bisa bangga dengan statusnya?
Jika
dia masih ada, apakah setiap hari mingguku masih terisi liburan?
Jika
dia masih ada, apakah aku masih bisa mengajak siapa saja untuk berlibur
bersamaku?
Jika
dia masih ada, apakah aku masih bisa memberikan apa yang mereka mau?
Jika
dia masih ada, apakah mereka masih menganggapku ada?
Jika
dia masih ada, apakah mereka berhenti menganggapku tidak mampu?
Jika
dia masih ada, apakah air mataku tak semurah ini?
Jika
dia masih ada, apakah rasa sakit ini akan berkurang?
Dan
jika dia masih ada, apakah hidupku akan sama seperti ini?
Ayah,
taukah engkau? Sekarang semuanya berbeda. Benar-benar berbeda. Bagaimana
mungkin hidupku terlalu bergantung padamu? Disaat senja menenggelamkanmu, fajar
menjadi tak seindah dulu. Apakah hembusan nafasmu sebegitunya berharga bagi
sebuah pengakuan? Mengapa setelah senja itu berlabuh mereka menjadi berbeda?
Ayah, seberapa bedanya aku kini dan dulu? Seberapa berpengaruhnya aku tanpamu
dan bersamamu? Apakah status mampu memburamkan pancaran fajar?
Ayah,
tahukah engkau seberapa lama aku bermetamorfosa?
Untuk
memahami arti kepergianmu ternyata tak semudah menghela nafas. Ayah, meskipun
kuhabiskan sisa waktuku untuk memilinnya, tetap saja kutemukan anganku berhenti
pada pintu pengandaian. Ia selalu menuntunku membangun ilusi. Memperkokohnya
menjadi delusi. Kemudian berakhir dengan menyalah-nyalahkan memori. Ayah,
apakah ini salah kanker? Apakah ini salah investasi? Apakah ini salah Ayah?
Apakah ini salah takdir? Dan sisa-sisa senyumku telah habis dengan merangkai
pertanyaan demi pertanyaan. Apakah menurutmu aku terlalu banyak menggerutu,
Ayah?
Ayah,
tahukah engkau seberapa jauh aku membangun jarak?
Ternyata
dunia itu begitu jahat, Ayah. Bagaimana bisa mempertahankan sebuah pengakuan begitu
menyakitkan? Mengapa strata begitu diagungkan? Ayah, tahukah engkau? Sejak
senja kemarin berlabuh, fajar tak seindah dulu. Kini aku terombang-ambing
diantaranya. Antara fajar dan senja. Jika pancaran fajar itu tak secerah dulu apakah
itu salahku? Ayah, menurutmu apakah mereka mencoba membatasi langkahku atau aku
yang terlalu jauh membangun jarak diantara mereka?
Ayah,
I need you, so much. Bagaimana ini?
Tertulis,
pada bulan keempat tahun 2013
I'm Not OK, You Are Not OK, and That is OK
Semuanya
terlihat panik. Secara tiba-tiba sosok laki-laki paruh baya itu terdiam.
Nafasnya melemah satu per satu. Raganya membiru secara perlahan. Sesosok wanita
disampingnya terlihat ketakutan, diguncangkannya raga suaminya, dibenarkannya
tatanan oksigennya, hingga dicari-cari denyutan nadi suaminya. Nihil. Raga itu
benar-benar terpisah dari rohnya.
Sesosok
gadis belasan tahun tertuduk lemas, menangis, berteriak, terisak, berontak.
“Papa masih ada ik..Papa masih ada..”
Suara lemah itu terdengar menuntut. Diiringi isakan yang terbata-bata. Aku
terbius, membisu. Kebingungan, atau lebih tepatnya kelimpungan. Kudekap erat
raganya yang terhuyung, membebaskan segala memori yang sudah lama kupendam
untuk membaur bersama detiknya. Kupandang lekat kedua matanya, ingin
kusampaikan bahwa ini adalah yang terbaik, bahwa ini harus ia terima dan bahwa
pada akhirnya cepat atau lambat, hal ini pasti akan terjadi. Tapi
kerongkonganku tercekat. Lidahku benar-benar kaku. Rangkaian kata-kata itu
hanya berputar dan meracau dalam otakku. Sekali lagi, aku hanya mampu
mendekapnya, menggenggam erat jemarinya, membiarkan seluruh tangisnya luruh
bersama rasa kehilangannya. Rasaku benar-benar tak karuan. Kupandang segala
penjuru ruangan. Air mata dimana-mana. Kuraba pelan pori-pori pipiku, kering.
Aku ini,
sahabat macam apa ?
“Papa masih ada ik..Papa masih ada..”
Suara lemah itu kembali menusukku. Lidahku kelu. Kueratkan dekapanku, mendekat
kearah telinganya.
“Iya, Papamu masih ada mbak, masih ada, ada
didalam hatimu.”
Dan
isakkannya semakin menjadi, berbaur dengan deraiku yang mulai terjatuh. Bibirku
bergetar, kerongkonganku tercekat. Menangis, aku menangis. Ya, kali ini aku
benar-benar mengikutinya. Kalimat itu benar-benar mampu melemparku pada memori
8 tahun lalu secara utuh. Semuanya menjadi berkelebat, berputar-putar dan
membaur bersama detiknya. Kudekap raganya lebih erat lagi, membiarkan rasanya
meluruh dengan segala kenangannya. “Tenang
mbak, kamu gak akan sendiri, ada aku, disini, bersamamu.”
Tertulis,
Pada ujung Ramadhan di tahun 2013.
Sunday, August 7, 2016
Kata orang, Menulis itu Merapikan Kenangan
Sekarang,
ditempatku menulis, waktu sedang berhenti pada angka 15.06 WIB. Mungkin saja
beberapa kalimat setelah tulisan tadi, jarum jam sudah menjalar ke angka-angka
setelahnya. Mungkin juga, ketika tulisan ini sudah berhasil dimuat, matahari
sudah tak ada, atau bahkan sudah mulai bergulir kematahari dihari berikutnya.
Kata orang, menulis itu merapikan
kenangan....
Ini kali kedua
aku mengutipnya. Ah, sebenarnya setiap aku ingin memulai bercerita, selalu saja
kalimat itu yang muncul pertama kali dan selalu ingin kukutip. Tapi, bagaimana
jika kalian bosan membacanya? Lalu, sepersekian detik setelah pertanyaan itu
terlontar, aku segera mengganti, tidak, lebih tepatnya terpaksa mencari
pengganti kutipan lain. Sayangnya nihil, aku tak jua menemukan kutipan indah
yang sepadan. Lantas karena kesal, aku berhenti menulis. Merajuk pada google yang tidak mampu memuaskan pencarianku.
Hatiku merajuk, kemudian semua cerita itu menguap begitu saja. Lalu untuk
kesekian kalinya, aku gagal merapikan setiap kenangan dan membingkainya dalam sebuah
cerita.
Sejujurnya, aku
sedang teralihkan pada aplikasi path
dan instagram. Yang nyatanya, dua
tahun terakhir ini telah membuatku berhenti menulis. Fitur-fitur serba instan, lebih
unik, lebih menghibur, lebih cepat diakses semua orang, atau apapun itu, sungguh
mampu membuatku terlena dan lupa bagaimana cara membingkai rapi sebuah cerita
dalam rangkaian paragraf. Nampaknya memilih foto yang kira-kira akan
menghasilkan banyak like dan comment lebih mudah dibanding harus berlama-lama
menyusun ratusan kalimat demi sebuah postingan di blog. Lagipula, mengabadikan moment dengan memposting foto lengkap
bersama “mini” captionnya sudah cukup
mewakili setiap kenangan, bukan?
Kata orang, menulis itu
merapikan kenangan....
Ah, sayangnya
aku tidak bisa menulis dengan cukup rapi pada aplikasi path ataupun instagram. Sesekali
aku mencoba untuk merapikan kenangan disana. Sayangnya “sesekali” juga ada yang
meninggalkan pesan sindiran dikolom komentar. “Ini caption apa nulis diary?”
Lagi-lagi aku merajuk membacanya. Rindu pada kebebasan menulis seluas-luasnya. Maka,
tertanggal tulisan ini dimuat, semoga akan kupenuhi halaman-halaman ini dengan
ratusan kenangan yang telah kubingkai rapi.
Monday, December 28, 2015
Dreams?
Keep your heart open to dreams
For as long as there’s a dream, there is
hope
And as long as there is hope, there is joy
in living
*****
Hai, it’s me Aini!
It been a long time, right?
Udah lama banget gak nulis di blog.
Anybody miss my another “Unanswered Prayer” ? Well, sejujurnya, selama ini saya juga sedang mengumpulkan segala
macam jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang saya tuliskan setahun yang lalu.
Ada banyak sekali hal-hal yang terjadi didalamnya, yang bahkan pernah membuat
saya berada dititik ingin menghapus postingan-postingan blog saya yang dulu. Terutama postingan saya yang terakhir, “Unanswered Prayer”. Tahun 2015, bisa
dibilang menjadi tahun yang begitu berharga untuk saya. Bertemu dengan berbagai
macam orang dengan segala cerita mengenai mimpi, perjuangan dan bahkan pengalaman-pengalaman
hidup mereka yang pada akhirnya membuat saya benar-benar memaknai apa arti kata
“Di atas langit masih ada langit”.
Dulu, setelah
saya memposting “Unanswered Prayer”
saya bertekad akan membuat postingan baru setahun setelahnya untuk menjawab
semua pertanyaan-pertanyaan saya disana. Saya berharap, tulisan saya bisa
kembali menginspirasi siapapun yang membacanya. Namun, seiring berjalannya
waktu, saya bertemu dengan orang-orang yang luar biasa. Orang-orang dengan
mimpi besar, perjuangan besar dan hasil yang besar pula, yang menurut saya, hal
tersebut memang patut mereka banggakan. Saat itu, saya berfikir, betapa
memalukannya saya dengan mimpi sekecil itu, perjuangan yang masih kecil dengan
hasil yang belum patut dibanggakan juga, menulis sebuah postingan yang setelah
saya fikir-fikir begitu berlebihan. Namun,
ketika saya ingin menghapusnya, masih saja ada beberapa pembaca blog saya yang
menyampaikan bahwa tulisan saya begitu menginspirasi mereka. Hingga pada
akhirnya, saya urung untuk menghapusnya.
Seiring
berjalannya waktu, saya menyadari bahwa mimpi tetaplah sebuah mimpi.
Sesederhana apapun mimpi tersebut, ia tetaplah sebuah harapan bagi setiap
pemiliknya. Dan pada akhirnya, saya tidak akan menghapus postingan-postingan
saya yang dulu. Sesederhana apapun mimpi saya, sekecil apapun usaha saya, dan sebiasa
apapun hasil perjuangan saya, ia tetaplah sebuah mimpi. Mimpi yang membuat saya
hidup. Mimpi yang membuat saya bangkit dan mimpi yang membuat saya bersyukur.
See you in my another story, guys!
Semoga bisa
tetap menginspirasi :)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Life isn't always lovely, but it's a beautiful ride
Hai, I know it's already 2018, but how your 2017? What your best companion? Your best healer? This post probably gonna be s...






